-Kesalahan-
Ketika kita melakukan kesalahan, lalu mereka menegur kami melalui mimpi.
Beberapa tahun yang lalu, salah satu
teman gue yang bernama Jono mengajak gue untuk naik gunung. Karena gue memang
suka hiking, akhirnya gue memutuskan untuk ikut. Lagipula, selain jaraknya yang
lumayan deket dan tidak perlu modal begitu banyak. "Ada ceweknya?"
Tanya gue. Sejujurnya gue males jika ada cewek yang ikut. Bukannya apa-apa,
hanya kurang 'sreg' aja gitu. "Ada, Nan. Lumayan buat nambah
konsumsi." Kata Jono sambil nyengir. Setelah gue menimang-menimang. "Okelah, gue ikut jon." Kata gue.
Beberapa hari kemudian, terkumpulah 7 orang dalam perjalanan kali ini. 5
laki-laki itu diantaranya: Gue, Jono, Ipul, Tatang dan Karyo. 2 perempuan:
Neneng dan Sari. Gue udah sering naik bareng Jono dan Ipul sedangkan yang
lainnya ya baru kali ini. Singkat cerita, kami sampai di basecamp pada tengah
malam. Saat pagi harinya jam 8, Jono pergi ke kantor untuk laporan simaksi.
Setelah memanjatkan doa bersama, akhirnya kami mulai memasuki jalur pendakian
sekitar jam 9 pagi. Seperti formasi biasanya, Jono sebagai leader, Ipul sebagai
Navigator dan gue sendiri sebagai sweeper. Pada awalnya, perjalanan masih
dibilang lancar dan masih ditemui kebun-kebun warga. Bahkan masih ada warga yang
bekerja di ladangnya. Setelah beberapa lama berjalan, Jono menyuruh kita untuk
berhenti dan berputar balik. "Kita salah jalan, puter balik." Katanya. Setelah kita bertanya pada warga yang kebetulan lewat,
akhirnya kita kembali ke jalan yang seharusnya. Jujur, gue belum merasa ada
yang aneh disitu. Tapi kemudian Jono menghampiri gue yang berada di belakang. "Ada yang aneh, Nan." Gue kebingungan, "Aneh
apanya?" Gue balik nanya. "Gue juga belum tahu, tapi
nanti kita tahu." Ucapnya, lalu balik lagi ke depan.
Akhirnya kami mulai memasuki hutan.
Jalanannya setapak dan menanjak, walau begitu masih terbilang mudah, karena
jalanan tersebut berbatu. Macam seperti sudah dibuat untuk para travellers agar
lebih mudah dalam pendakiannya. Sampai pos selanjutnya kita istirahat lama
banget, bahkan kita sampai buka bivak. Karena dari pagi belum sempat sarapan,
akhirnya kita makan besar. Disini kita ketemu dua orang dari jakarta. Ngobrol
dan ngopi sama mereka. Gak lama, mereka jalan duluan. Salah satu dari mereka
sempat berbisik ke gue, "Nanti kita bakal ketemu lagi di atas."
Matanya sayu tapi tersenyum. Gue sih gak mikir yang aneh-aneh,
toh nanti memang bakal ketemu lagi. Ya kalo gak di pos selanjutnya atau di
puncaknya gitu. Aslinya di sepanjang perjalanan gue sempat kesel sama satu anak
cewek, dimana karena hal itu juga yang membuat gue kurang sreg kalo ada cewek
ngikut hiking. Tapi ya ga bakal gue ceritain, kita fokusnya sama yang horor
aja. Kita jalannya lambat, sebentar-sebentar istirahat. Tapi ada satu yang buat
gue penasaran. Setahu gue, Karyo sama Neneng itu gak deket waktu di lingkungan
rumah tp kok bisa-bisanya mereka bisa deket selama perjalanan kali ini. Bahkan
mereka itu selalu nempel macam perangko, tapi gue belom mikir yg macam-macam.
Perjalanan yang dari awal kita prediksi akan sampai pos camp itu jam 6, malah
meleset jauh. Bahkan ketika hari mulai gelap, kami baru sampai di pos 3. Jujur,
gue udah mulai gak enak saat itu. Banyak suara-suara yang jarang gue temui saat
di kota. Disini, kita ketemu sama dua orang Jakarta tadi. Jujur, sepanjang naik
kita cuma ketemu sama dua rombongan, pertama sekelompok anak muda yang udah
jauh di depan dan satu lagi ya dua orang jakarta ini. Padahal dibawah tadi
lumayan ramai.
"Tuh kan ketemu lagi" Ucap
orang jakarta itu sambil nyengir. Gue cuma tersenyum. Gue berkenalan
dengan mereka, yang ngomong tadi namanya mas seno, sedangkan yang satu lagi
namanya mas parto. "Kok baru sampai sini?"
Tanya gue. "Kita lupa ga bawa senter." Kata mas seno. "Udah lama disini mas?". "Ya sejam lebih. Sengaja nunggu
kalian, biar barengan hehe." Ucap mas parto. "Oh, gabung aja mas."
Tawar gue sama jono ke mereka berdua. Akhirnya kita barengan, nambah dua personil. Ga selang lama, kita jalan lagi.
Sekarang posisi sweeper dipegang mas seno, sedang gue berada didepannya.
Akhirnya perjalanan kali itu sangat lamban karena kita minim pencahayaan,
soalnya cuma ada 4 senter, udah gitu medannya lumayan terjal. Tidak lama, kami beristirahat
kembali. Saat itu jono yang ada disebelah gue megang tangan gue sambil mukanya
memberikan kode. Gue melihat ada sekelebat asap dari belakang tempat duduknya
si tatang. Gue cuma diem gatau harus berbuat apa. "Ayo jalan lagi." Kata mas
seno, tapi matanya menatap ke arah asap tersebut. Gue yang melihat perilaku mas seno
sadar lalu berdiri, "Yok, sekarang lanjut lagi." Ucap gue cepet.
Namun ipul merengek, "Nan,
badan gue berat. Bentaran lagi ya." kata ipul. Gue akhirnya bingung antara kasihan
dengan ipul atau tetap melanjutkan perjalanan karena perasaan tidak enak. Namun
hanya gue, jono dan mas seno yang menyadari akan hal itu. Akhirnya kami
istirahat sebentar, gak lama kami melanjutkan perjalanan. Baru beberapa langkah, ipul kembali
lagi beristirahat. "Beneran deh, berat banget ini. Ngecamp disini aja
yak?" Kata ipul dengan nada yang memelas. Jono menghampiri gue, "Kasihan
ipul, kita camp disini aja ya, Nan?" Leadernya tuh dia, tapi malah minta saran ke gue. "Lo liat sendiri tadi ada asap
putih kan?" Gue mengungkit masalah tadi."Kasihan ipul tapi,
nan." Gue berargumen, "Tapi ga ada
tanah datar disini, jon." Jono memandang sekitar lalu
kelihatan sedang berfikir. Tiba-tiba datang rombongan yang sedang turun gunung. "Mas, pos camp masih
jauh?" Tanya Jono. Salah satu dari mereka menjawab, "Wah satu jam lagi
mas." "Kalo kita camp disini kira-kira aman gak mas?"
Tanya gue. Orang itu diem sebentar, lalu bilang, "Sebaiknya jangan
mas, mending lanjut aja sampai pos camp." Sarannya. "Kenapa mas?" Kali ini mas
seno. "Ya
jangan aja, apalagi kalian sedikit, takutnya ada binatang buas atau hal
lain." Jawab orang itu. Akhirnya rombongan itu pamit untuk
jalan, sedang gue dan jono menimang-nimang keadaan. "Lanjut apa gimana jon?"
Tanyaku.
Jono cuma diam, tapi gue lihat ada
kebimbangan pada raut wajahnya. Lalu dia menghampiri ipul. "Pul, beneran udah ga kuat?" Ipul cuma anggukin kepala. "Yaudah kita lanjut sampai
ketemu tanah yang datar ya, habis itu buka camp aja disana, setuju?" Tanya
jono ke kita semua. Kita semua mengiyakan pertanyaan jono. Soalnya gue liat jam
juga sudah menunjukan pukul delapan malam. Akhirnya dengan sisa tenaga, kami
melanjutkan perjalanan. Malam itu sepanjang jalan gue ngerasa gak nyaman banget
sama keadaan sekitar. "Kamu kenapa?" Colek mas seno dari belakang. Tapi gue cuma gelengin kepala, "gapapa bang,
hehe." "Saya tau kamu ngerasa gak nyaman." Dia menepuk
pundak gue, "Gapapa, asal kita jaga sikap itu udah cukup kok." Lanjut
mas seno lagi. Gue melanjutkan perjalanan lagi sampai dari kejahuan
terlihat ada orang yang nge camp, terus kita menghampiri mereka. "Mas, kita ikut camp disini boleh?" Tanya jono. Salah satu dari mereka menganggukan
kepala, "Boleh, silahkan bang." Tapi ada kendala saat itu. Kendalanya adalah minimnya tanah
datar disekitar situ. Bahkan mas seno sama temennya bangun tendanya disamping
jalan persis, diantara dua pohon besar dan tanahnya gak rata. Gue kasih tau
gambarannya. (Sorry gambarnya jelek, gue lagi diluar).
Setelah tenda terbangun, kami sempat
masak-masak untuk makan malam. Waktu jam 10, semuanya masuk tenda kecuali gue
dan jono. Sedangkan mas seno dan parto menyalakan kompor di dalam tenda, tapi
pintu tendanya di tutup. Kita bikin kopi dan ngerokok bareng. Waktu kita ngobrol, jujur banyak
banget gangguan. Apalagi suara-suara yang begitu jarang terdengar oleh gue.
Seperti suara hewan tapi kok bikin gue merinding gitu. Sampai kemudian jono
izin masuk tenda dan meninggalkan gue sendirian. Beberapa menit kemudian gue masuk
tenda yang kecil, tapi tenda itu udah terisi 4 orang yaitu Jono, Ipul, Tatang
sama Salsa. Kalo gue ikut masuk ya sempit dong. Akhirnya gue masuk tenda yang
lebih besar. Isinya ada gue, karyo dan neneng. Tapi terlalu lega, hehe. Gue selama hiking, ga pernah bawa sb (sleeping bag). Gue tidur cuma pake kaos
kaki, celana panjang, jaket dan sarung itu udah cukup. Mungkin karena gue
berasal dari sebuah desa di pegunungan, jadinya dingin itu ya udah hal yang
wajar. Gue liat karyo dan neneng udah mepet banget bahkan mereka udah bisa dibilang
pelukan. Akhirnya gue tidur memunggungi mereka. Kepala dan kaki gue masuk dalam
sarung macam orang kedinginan. Mungkin karena hal itu atau ada hal lain yang membuat
karyo menawarkan sb nya.
"Nan, pakai aja sb gue."
Kata karyo sambil melepas sb nya. Kemudian karyo masuk kedalam sb milik neneng, sehingga mereka berdua dalam satu
sb. Gue tidak memperdulikan mereka, lalu memakai sb yang diberikan oleh karyo
dan menutupnya hingga kepala. Tak begitu lama, saat gue mencoba
untuk tidur, jika gue tidak salah dengar, terdengar bunyi 'cup cup', dengan
kata lain seperti orang ciuman. Gue gak nuduh ya, cuma perasaan gue aja lho.
Kok gue bisa nebak gitu? Lah dari pengalaman sih kalo bunyi 'cup-cup' ya
ciuman. Tapi jujur gue gak peduli. Gue hanya mencoba memejamkan mata untuk
tidur, tapi amat teramat susah. Padahal gue kecapean lho, biasanya gue kalo
kecapean terus rebahan ya bisa terlelap. Tapi kok hawa-hawanya kayak panas,
terus sumpek banget. Saat gue udah tertidur, gue merasa ada yang nepuk bahu gue.
Akhirnya gue buka resleting sb dan gue lihat muka karyo yang pucat. Dia tengah
melototi sesuatu di samping tenda. Gue mengikuti arah pandangan matanya dan
disaat itu pula terpampang objek yang membuat gue melek seketika. Sebuah siluet berbentuk setan
lontong itu terpampang jelas dibalik kain tenda. Gue sampai sekarang pun gatau
kenapa bisa keliatan, padahal minim cahaya pada saat itu. Gue lihat objek itu
perlahan berjalan sampai siluet itu menghilang. Gue melihat sosok kedua manusia
disebelah gue, neneng memejamkan matanya sambil memeluk karyo. Karyo masih
dengan muka pucatnya berbicara secara gagap. "I..itu a..apa, Nan?" Aku hanya bisa menggeleng tanpa suara. Dia berbicara kepada neneng bahwa
kejadiannya sudah usai.
Karyo memberi kode agar gue tidur
diatas tangannya. "Tidurnya jangan jauh-jauh napa, Nan. Sini diatas tangan gue."
Ucapnya. Namun gue menolak, tapi gue membuka sb hingga se perut
karena merasa hawanya panas. Kemudian kembali memunggungi mereka. Tak lama terdengar kembali
bunyi-bunyi aneh seperti sebelumnya. Karyo kembali menepuk bahu gue, "Itu
suara apa sih, Nan?"
Gue balik badan, "Gatau." Sahut gue. Sumpah, saat itu terdengar kayak rame banget, menurut gue ramainya macam suasana di pasar gitu. Sampai kemudian ada suara cewek melengking yang membuat kita bertiga kaget. Bahkan karyo sampai melepas sb, kemudian masuk ke dalam sb milik gue dan memeluk gue dari samping. Eh buset itu neneng ditinggal begitu aja, batin gue saat itu. Setelah itu neneng mendekati kita berdua dan memeluk karyo, sedangkan gue tidur menyamping dengan tangan karyo sebagai bantalnya. Jujur bunyinya makin rame dan tiba-tiba siluet di luar tenda muncul kembali, namun kali ini lebih banyak objeknya.
Gue balik badan, "Gatau." Sahut gue. Sumpah, saat itu terdengar kayak rame banget, menurut gue ramainya macam suasana di pasar gitu. Sampai kemudian ada suara cewek melengking yang membuat kita bertiga kaget. Bahkan karyo sampai melepas sb, kemudian masuk ke dalam sb milik gue dan memeluk gue dari samping. Eh buset itu neneng ditinggal begitu aja, batin gue saat itu. Setelah itu neneng mendekati kita berdua dan memeluk karyo, sedangkan gue tidur menyamping dengan tangan karyo sebagai bantalnya. Jujur bunyinya makin rame dan tiba-tiba siluet di luar tenda muncul kembali, namun kali ini lebih banyak objeknya.
Gue gak bisa sebutin kayak gimana,
tapi intinya mah banyak, seperti mengelilingi tenda. Gue udah mikir kalo itu
bukan manusia. Gue juga yakin jika itu bukan orang yang mau ngerjain kita.
Masalahnya niat banget malem dan dingin begini ngerjain kita kan? Gue hanya bisa berfikir satu hal aja
yaitu baca al-quran. Gue menyalakan ponsel, lalu membuka aplikasi al-quran dan
membacanya. Awalnya gue membaca pelan, namun suara gangguan itu semakin keras
dan bayangannya semakin banyak. Gue panik tapi mencoba fokus. Gue meniatkan baca al-quran karena
Allah, tuhan semesta alam. Semakin gue fokus membaca al-quran, semakin sunyi
keadaan saat itu. Bahkan saat gue melihat sekitar, bayangannya sudah tidak ada.
Kemudian gue melihat neneng sudah tidur dan menyisakan gue sama karyo.
"Lo tadi ngapain, yo?"
Tanyaku mengingatkan bunyi cup-cup itu. "Kagak, gue gak ngapa-ngapain."
Jawabnya tidak jujur. Gue berdecih, "Deh. Lo tau sendiri ini di gunung
toh."
Tiba-tiba suara-suara aneh terdengar kembali, "Nan, baca al-quran lagi." Perintah karyo. Gue membaca al-quran kembali, hingga kemudian gue merasa hawa saat itu terasa sejuk. Bahkan gue menguap beberapa kali. Sampai akhirnya gue tidak bisa melawan rasa kantuk itu. Sesaat kemudian, entah bagaimana, gue tiba-tiba tertidur. Gue tidur dan bermimpi. Ini mimpinya: Gue berada di tempat yang sama, gue sedang duduk di depan tenda. Namun anehnya gue sendirian pada saat itu, tidak ada siapa-siapa. Lalu dari arah lajur pendakian ada sekelompok orang, seperti tentara kerajaan sedang berjalan. Mereka jumlahnya puluhan. Lalu kemudian ada tentara yang memikul sebuah tandu (kayak tandunya jend. sudirman). Lalu ku melihat mereka berhenti tepat di depanku. Salah satu dari mereka membuka tirai yang menghalangi pandangan orang yang dipikul tersebut. Aku kaget saat kulihat wajah dari orang yang ditandu tersebut. Seperti seseorang yang sering aku lihat di buku pelajaran. Seseorang yang sempat menjadi pemimpin salah satu kerajaan besar di pulau jawa. Beliau tersenyum kepadaku dan menyuruhku untuk menghampirinya. Aku berdiri di hadapannya, dia menyentuh pundakku. Dia berbicara dengan bahasa daerah, namun aku paham dengan apa yang dibicarakannya. "Nak, beritahu ke semuanya untuk menjaga sikap setiap kali kalian berkunjung kemari." Ucapnya.
Tiba-tiba suara-suara aneh terdengar kembali, "Nan, baca al-quran lagi." Perintah karyo. Gue membaca al-quran kembali, hingga kemudian gue merasa hawa saat itu terasa sejuk. Bahkan gue menguap beberapa kali. Sampai akhirnya gue tidak bisa melawan rasa kantuk itu. Sesaat kemudian, entah bagaimana, gue tiba-tiba tertidur. Gue tidur dan bermimpi. Ini mimpinya: Gue berada di tempat yang sama, gue sedang duduk di depan tenda. Namun anehnya gue sendirian pada saat itu, tidak ada siapa-siapa. Lalu dari arah lajur pendakian ada sekelompok orang, seperti tentara kerajaan sedang berjalan. Mereka jumlahnya puluhan. Lalu kemudian ada tentara yang memikul sebuah tandu (kayak tandunya jend. sudirman). Lalu ku melihat mereka berhenti tepat di depanku. Salah satu dari mereka membuka tirai yang menghalangi pandangan orang yang dipikul tersebut. Aku kaget saat kulihat wajah dari orang yang ditandu tersebut. Seperti seseorang yang sering aku lihat di buku pelajaran. Seseorang yang sempat menjadi pemimpin salah satu kerajaan besar di pulau jawa. Beliau tersenyum kepadaku dan menyuruhku untuk menghampirinya. Aku berdiri di hadapannya, dia menyentuh pundakku. Dia berbicara dengan bahasa daerah, namun aku paham dengan apa yang dibicarakannya. "Nak, beritahu ke semuanya untuk menjaga sikap setiap kali kalian berkunjung kemari." Ucapnya.
Aku menunduk. "Nak, kamu anak yang sopan dan
biarkanlah itu tetap begitu." Lanjutnya. Dia lalu menunjuk ke tendaku,
"Aku memaafkan perilakunya karena kamu."
Aku tidak paham maksudnya, namun aku kepikiran tentang hal yang diperbuat oleh karyo dan neneng. Dia mengusap bahuku dan menyuruhku untuk melihatnya. Aku melihatnya tengah tersenyum. "Sekarang bangunlah, sebelum tendamu terbawa tanah." Ucapnya sambil memberiku kode untuk melihat tendaku. Aku berbalik dan kudapati tendaku sudah miring ke jurang. Tiba-tiba gue terbangun dari tidur. Gue merasa ada yang menutupi muka dan itu ternyata adalah kain langit-langit tenda. Gue liat ke sekeliling dan melihat bahwa tendanya telah miring. Kemudian gue membangunkan karyo dari tidurnya. Gue keluar tenda bersama karyo dan mendapati bahwa tendanya telah miring sebelah. Jadi dua pasak di bagain belakang telah terlepas dan sebagian miring atau terjatuh ke arah jurang. Gue hanya bisa beristigfar saat itu. Kemudian gue melihat mas seno dan mas parto sedang ngopi di luar tendanya, kita menghampiri mereka berdua.
"Gimana mimpinya?" Tanya mas seno ke gue. Gue terkejut, gue makin lama percaya kalo orang ini cenayang. Gue cuma tersenyum, akhirnya menceritakan mimpinya.
Aku tidak paham maksudnya, namun aku kepikiran tentang hal yang diperbuat oleh karyo dan neneng. Dia mengusap bahuku dan menyuruhku untuk melihatnya. Aku melihatnya tengah tersenyum. "Sekarang bangunlah, sebelum tendamu terbawa tanah." Ucapnya sambil memberiku kode untuk melihat tendaku. Aku berbalik dan kudapati tendaku sudah miring ke jurang. Tiba-tiba gue terbangun dari tidur. Gue merasa ada yang menutupi muka dan itu ternyata adalah kain langit-langit tenda. Gue liat ke sekeliling dan melihat bahwa tendanya telah miring. Kemudian gue membangunkan karyo dari tidurnya. Gue keluar tenda bersama karyo dan mendapati bahwa tendanya telah miring sebelah. Jadi dua pasak di bagain belakang telah terlepas dan sebagian miring atau terjatuh ke arah jurang. Gue hanya bisa beristigfar saat itu. Kemudian gue melihat mas seno dan mas parto sedang ngopi di luar tendanya, kita menghampiri mereka berdua.
"Gimana mimpinya?" Tanya mas seno ke gue. Gue terkejut, gue makin lama percaya kalo orang ini cenayang. Gue cuma tersenyum, akhirnya menceritakan mimpinya.
"Kamu gak mimpi kok, itu
nyata." kata mas seno.
Gue tiba-tiba syok. "Beliau tadi datang dan minta ketemu kamu."
Gue masih ga percaya. Mas seno cuma ketawa, "Kadang emang yang gak masuk akal itu terjadi disekitar kita." Gue mengigil seketika. "Udah nih minum." Mas seno memberikan gue segelas teh hijau. Namun rasanya pahit banget. Tapi gak lama, gue lebih seger. Karyo balik ke tenda duluan dan gak lama jono keluar dari tendanya lalu mengecek tenda gue, kemudian melihat kita bertiga dan menghampiri kita. "Lo dimimpiin juga ya?" Tiba-tiba jono langsung bilang kaya begitu sambil nyengir. Gue mengangguk, Mas seno ketawa, "Iya, tuh mukanya pucet." Akhirnya jono menceritakan mimpinya dan kurang lebih sama alur mimpinya dengan apa yang gue mimpikan.
Gue tiba-tiba syok. "Beliau tadi datang dan minta ketemu kamu."
Gue masih ga percaya. Mas seno cuma ketawa, "Kadang emang yang gak masuk akal itu terjadi disekitar kita." Gue mengigil seketika. "Udah nih minum." Mas seno memberikan gue segelas teh hijau. Namun rasanya pahit banget. Tapi gak lama, gue lebih seger. Karyo balik ke tenda duluan dan gak lama jono keluar dari tendanya lalu mengecek tenda gue, kemudian melihat kita bertiga dan menghampiri kita. "Lo dimimpiin juga ya?" Tiba-tiba jono langsung bilang kaya begitu sambil nyengir. Gue mengangguk, Mas seno ketawa, "Iya, tuh mukanya pucet." Akhirnya jono menceritakan mimpinya dan kurang lebih sama alur mimpinya dengan apa yang gue mimpikan.
Kita ngobrol berempat lama, sampai
mas seno memberi beberapa nasehat untuk kita berdua. Bahkan gue akhirnya paham
kalo dia bisa ngeliat yang begituan. Jam 5an kami membangunkan teman-teman
untuk mengejar summit attack. Mas seno dan mas parto ngikut kita sampai ke puncak. Pas udah di puncak, mas seno izin
pamit karena arah turun kami berbeda. Sebelum berpisah, mas seno memanggil gue
dan jono. "Kalian jaga teman kalian, saya takutnya masih terjadi sesuatu."
Ucapnya mengingatkan. Gue dan jono mengangguk, akhirnya kita berpisah.
Perjalanan pulang dimulai pada pukul
12san. Kami melalui trek yang tidak begitu sulit ketika perjalanan naik. Bahkan
jalur ini terbilang lebih ramai. Kami berjalan dengan santai sembari menikmati
udara yang jarang didapat di kota. Sore harinya tiba-tiba hujan. Lagi
dan lagi, kita terhambat dalam perjalanan. Akhirnya gue meneduh bersama karyo
di sebuah bangunan yang sekiranya pos. "Soal tadi pagi pas di tenda mas seno, gue juga
dimimpiin kok, nan." Ucap si karyo. Gue kaget kok bisa di mimpiin juga.Karyo
menceritakan mimpinya, intinya ya beliau itu menegur dia dan karyo meminta
maaf. Aslinya dia merinding saat melihat tenda kita udah rubuh sebagian.
Apalagi saat dia dengar bahwa gue mimpi juga dan mas seno bilang kalo dia itu
beneran dateng. Makanya dia langsung msk tenda.
Akhirnya kita jalan lagi dan waktu
itu hari sudah mulai gelap. Akhirnya kita sempet istirahat sebentar dipinggir
jalan. Gue lagi duduk di sebelah karyo. "Itu apaan nan?" Tanya
karyo. Gue
melihat seperti istana besar. Tapi ga bakal mungkin ada istana disini. Sebuah tepukan dari belakang membuat
gue sama karyo kaget, ternyata itu si jono. "Hayo liat apa kalian?" Gue dan karyo berbalik dan
menggeleng. "Bukan istana itu." Jelasnya. Gue balik lagi melihat objek tadi
dan ternyata tidak ada apa-apa. Hanya rerimbunan pohon. Kita jalan lagi dan gue ketinggalan
bersama tatang. Soalnya gue nungguin dia, karena dia merasa capek. Tiba-tiba ada pertigaan, gue juga
gatau ini harus belok kemana, sedangkan temen-temen yang lain udah gak
kelihatan. "Belok kiri, nan. Tuh ada si sari." Tunjuknya. Tapi samar-samar dari kejauhan
terlihat ada yang janggal. Sari tidak berjalan, tapi melayang. Gue yang
menyadarinya pun langsung menarik tatang yang sudah mulai berjalan ke kiri,
kemudian membawanya untuk belok ke kanan.
"Jalannya kesini." Tegas gue. Tapi tatang masih ngeyel, "Tapi lo liat sendiri kan kalo sari belok kiri?" Tanya dia. Gue menghela nafas, "Itu bukan sari." Aku masih menarik tangannya, "Udah ikutin gue." Ajakku. Tidak begitu lama gue melihat teman-teman yang lain sedang menunggu kedatangan kami. Hari sudah gelap dan kami belum sampai, katanya jono sih masih 20 menit lagi. Pas lagi jalan, neneng terjatuh. Gue gak sempet ngeliat sih, soalnya kan gue ada di barisan belakang. Pas diliat pelipis neneng terlihat berdarah, walau ga banyak. Kita istirahat kembali."Gue kayak ngerasa ada yang ngedorong." Neneng sedang menceritakan apa yang dialaminya. Jono terlihat bengong, namun kedua sudut matanya sepeti melihat sesuatu. Gue mengikuti arah matanya dan mendapati ada anak kecil, hitam dan bertanduk. Anjir, batin gue.
"Jalannya kesini." Tegas gue. Tapi tatang masih ngeyel, "Tapi lo liat sendiri kan kalo sari belok kiri?" Tanya dia. Gue menghela nafas, "Itu bukan sari." Aku masih menarik tangannya, "Udah ikutin gue." Ajakku. Tidak begitu lama gue melihat teman-teman yang lain sedang menunggu kedatangan kami. Hari sudah gelap dan kami belum sampai, katanya jono sih masih 20 menit lagi. Pas lagi jalan, neneng terjatuh. Gue gak sempet ngeliat sih, soalnya kan gue ada di barisan belakang. Pas diliat pelipis neneng terlihat berdarah, walau ga banyak. Kita istirahat kembali."Gue kayak ngerasa ada yang ngedorong." Neneng sedang menceritakan apa yang dialaminya. Jono terlihat bengong, namun kedua sudut matanya sepeti melihat sesuatu. Gue mengikuti arah matanya dan mendapati ada anak kecil, hitam dan bertanduk. Anjir, batin gue.
Gak lama, setan itu menghilang,
kemudian jono bangkit, "Hayuk jalan lagi."
Kita mengikuti leader. Akhirnya kita sampai di beskem. Kita membantu luka-lukanya neneng dan akhirnya memutuskan untuk menginap di beskem dan pulang di esok harinya. Waktu malamnya, disaat gue berdua sama jono, dia ngomong sesuatu. "Masih ingetkan waktu awal naik, gue sempet bilang kalo bakal ada yang aneh-aneh?" Gue mengangguk. "Karena waktu itu ada yang menghalangi jalan kita. Seakan akan dia tidak ngijinin kita naik." "Awalnya gue mau bilang, tapi gue kasihan sama mereka yang mau naik, yakali gue gagalin." Jono menyeruput kopinya, "Tapi gatau kenapa, gue ngerasa nyaman kalo lo ikut. Makanya setiap naik, gue pasti ajak elo, walau pas lo ga ada duit." Lanjutnya. "Makasih juga udah nego sama beliau." Ucapnya. Gue mengernyit bingung, "Maksudnya nego?" Jono ketawa, "Makasih udah selalu ingat kepada sang khalik, tuhan semesta alam." Jono bangkit dan pergi meninggalkan gue dengan pertanyaan yang belum terjawab.
Kita mengikuti leader. Akhirnya kita sampai di beskem. Kita membantu luka-lukanya neneng dan akhirnya memutuskan untuk menginap di beskem dan pulang di esok harinya. Waktu malamnya, disaat gue berdua sama jono, dia ngomong sesuatu. "Masih ingetkan waktu awal naik, gue sempet bilang kalo bakal ada yang aneh-aneh?" Gue mengangguk. "Karena waktu itu ada yang menghalangi jalan kita. Seakan akan dia tidak ngijinin kita naik." "Awalnya gue mau bilang, tapi gue kasihan sama mereka yang mau naik, yakali gue gagalin." Jono menyeruput kopinya, "Tapi gatau kenapa, gue ngerasa nyaman kalo lo ikut. Makanya setiap naik, gue pasti ajak elo, walau pas lo ga ada duit." Lanjutnya. "Makasih juga udah nego sama beliau." Ucapnya. Gue mengernyit bingung, "Maksudnya nego?" Jono ketawa, "Makasih udah selalu ingat kepada sang khalik, tuhan semesta alam." Jono bangkit dan pergi meninggalkan gue dengan pertanyaan yang belum terjawab.
Pada pagi harinya kita bersiap untuk
pulang dan kita selamat sentosa sampai tujuan. Tidak ada kejadian aneh selama
perjalanan pulang, semuanya benar-benar normal.
-End-
-End-





